*LEBIH RENDAH DARIPADA ANJING?*
Oleh Hafidz Maulana Z
Hadits mengabarkan tentang seorang pelacur yang susah payah turun ke dalam sumur untuk memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan, maka Allah memasukkan orang itu ke dalam surga.
Alkisah, seorang laki-laki sebut saja A, datang meminta kepada laki-laki lain yang bernama B, air minum di dalam rumah. Melihat tubuh A yang meminta ini segar bugar, B merasa tersinggung, mengapa A tidak berusaha sendiri untuk mendapat air minum? Si A kan masih muda dan segar bugar?
Kenapa harus aku yang melakukannya? Maka si B pun menolak permintaan si A.
Seberapa sering kasus semacam ini datang kepada kita?
Seberapa banyak orang dan binatang yang meminta bantuan kita hal-hal yang sebenarnya remeh, misalnya hutang, uang receh, air minum, makanan, barang yang kita jual, minta diantarkan ke suatu tempat dengan gratis, dll, tapi kita menolak memberikannya.
Kalau seandainya pelacur di paragraf pertama tadi menganggap rendah si anjing, tentulah si pelacur tadi tidak jadi masuk surga.
Lalu apakah orang-orang yang meminta tadi lebih tidak pantas untuk ditolong daripada anjing?
Apakah kita menganggap menolong orang orang seperti itu tidak dapat menjadi alasan Allah memasukkan kita ke surga?
Kita menganggap perbuatan _meminta_ adalah perbuatan yang rendah, tapi tidakkah kita berkhusnudzon barangkali, apa yang mereka minta itu benar benar dibutuhkan sampai sampai mereka merendahkan diri dengan meminta kepadamu?
Jikalaupun memang kita tidak mampu memberi, sekali-kali jangan menganggap rendah mereka, jangan memicingkan mata kepada mereka, jangan sekali-kali merasa lebih mulia daripada mereka.
*Terakhir* sebagai lampiran dan bahan renungan, kami utarakan kisah Nabi Musa Alaihissalam dengan seekor anjing.
____________________
Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as sering bermunajat kepada Allah di Gunung At-Thur. Suatu saat Allah Menurunkan wahyu kepadanya,
“Ketika nanti engkau datang untuk bermunajat kepada-Ku, bawalah bersamamu suatu makhluk yang engkau merasa lebih mulia darinya.”
Kemudian Nabi Musa mencari kesana kemari. Melihat dan memperhatikan satu demi satu wajah manusia yang ia temui. Ia pun mendatangi pasar budak, mungkin saja ia temukan manusia yang ia cari. Setiap melihat seseorang, ia berpikir dalam benaknya “apakah aku lebih mulia darinya? Mungkin saja ia lebih mulia dariku di sisi Allah swt.”
Hingga akhirnya ia tidak berani menganggap dirinya lebih mulia dari manusia, bagaimanapun kondisinya. Kemudian pandangannya beralih kepada hewan, mungkin dirinya pantas merasa lebih mulia dari hewan. Tapi ia tetap tak menemukan.
Hingga akhirnya ia temukan seekor anjing yang berpenyakit kulit. Kondisi anjing ini begitu buruk dan penyakitan. Hatinya pun bergumam “Sepertinya aku bisa membawa anjing ini bersamaku.”
Kemudian Nabi Musa membawanya ke tempat ia biasa menyendiri dan bermunajat kepada Allah swt. Di tengah jalan, ia menoleh kepada anjing ini. Hatinya dipenuhi dengan penyesalan karena telah merasa lebih mulia darinya.
Tiba-tiba ia lepaskan tali dari leher si anjing dan menyuruhnya pergi. Sesampainya di tempat munajat, Allah Berkhitob kepadanya,
“Wahai Musa, apakah kau telah membawa apa yang telah Kami Perintahkan kepadamu sebelumnya?”
Ia menjawab, “Tuhanku, aku tak menemukan sesuatu yang Engkau Minta dariku itu” Kemudian Allah Berfirman,
*_“Demi Kemuliaan dan Kebesaran-Ku, andai engkau membawa sesuatu (yang kau anggap lebih hina darimu) maka kan Kuhapus namamu dari nama-nama para Nabi.”_*
Oleh Hafidz Maulana Z
Hadits mengabarkan tentang seorang pelacur yang susah payah turun ke dalam sumur untuk memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan, maka Allah memasukkan orang itu ke dalam surga.
Alkisah, seorang laki-laki sebut saja A, datang meminta kepada laki-laki lain yang bernama B, air minum di dalam rumah. Melihat tubuh A yang meminta ini segar bugar, B merasa tersinggung, mengapa A tidak berusaha sendiri untuk mendapat air minum? Si A kan masih muda dan segar bugar?
Kenapa harus aku yang melakukannya? Maka si B pun menolak permintaan si A.
Seberapa sering kasus semacam ini datang kepada kita?
Seberapa banyak orang dan binatang yang meminta bantuan kita hal-hal yang sebenarnya remeh, misalnya hutang, uang receh, air minum, makanan, barang yang kita jual, minta diantarkan ke suatu tempat dengan gratis, dll, tapi kita menolak memberikannya.
Kalau seandainya pelacur di paragraf pertama tadi menganggap rendah si anjing, tentulah si pelacur tadi tidak jadi masuk surga.
Lalu apakah orang-orang yang meminta tadi lebih tidak pantas untuk ditolong daripada anjing?
Apakah kita menganggap menolong orang orang seperti itu tidak dapat menjadi alasan Allah memasukkan kita ke surga?
Kita menganggap perbuatan _meminta_ adalah perbuatan yang rendah, tapi tidakkah kita berkhusnudzon barangkali, apa yang mereka minta itu benar benar dibutuhkan sampai sampai mereka merendahkan diri dengan meminta kepadamu?
Jikalaupun memang kita tidak mampu memberi, sekali-kali jangan menganggap rendah mereka, jangan memicingkan mata kepada mereka, jangan sekali-kali merasa lebih mulia daripada mereka.
*Terakhir* sebagai lampiran dan bahan renungan, kami utarakan kisah Nabi Musa Alaihissalam dengan seekor anjing.
____________________
Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as sering bermunajat kepada Allah di Gunung At-Thur. Suatu saat Allah Menurunkan wahyu kepadanya,
“Ketika nanti engkau datang untuk bermunajat kepada-Ku, bawalah bersamamu suatu makhluk yang engkau merasa lebih mulia darinya.”
Kemudian Nabi Musa mencari kesana kemari. Melihat dan memperhatikan satu demi satu wajah manusia yang ia temui. Ia pun mendatangi pasar budak, mungkin saja ia temukan manusia yang ia cari. Setiap melihat seseorang, ia berpikir dalam benaknya “apakah aku lebih mulia darinya? Mungkin saja ia lebih mulia dariku di sisi Allah swt.”
Hingga akhirnya ia tidak berani menganggap dirinya lebih mulia dari manusia, bagaimanapun kondisinya. Kemudian pandangannya beralih kepada hewan, mungkin dirinya pantas merasa lebih mulia dari hewan. Tapi ia tetap tak menemukan.
Hingga akhirnya ia temukan seekor anjing yang berpenyakit kulit. Kondisi anjing ini begitu buruk dan penyakitan. Hatinya pun bergumam “Sepertinya aku bisa membawa anjing ini bersamaku.”
Kemudian Nabi Musa membawanya ke tempat ia biasa menyendiri dan bermunajat kepada Allah swt. Di tengah jalan, ia menoleh kepada anjing ini. Hatinya dipenuhi dengan penyesalan karena telah merasa lebih mulia darinya.
Tiba-tiba ia lepaskan tali dari leher si anjing dan menyuruhnya pergi. Sesampainya di tempat munajat, Allah Berkhitob kepadanya,
“Wahai Musa, apakah kau telah membawa apa yang telah Kami Perintahkan kepadamu sebelumnya?”
Ia menjawab, “Tuhanku, aku tak menemukan sesuatu yang Engkau Minta dariku itu” Kemudian Allah Berfirman,
*_“Demi Kemuliaan dan Kebesaran-Ku, andai engkau membawa sesuatu (yang kau anggap lebih hina darimu) maka kan Kuhapus namamu dari nama-nama para Nabi.”_*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar